1.
Asal-Usul Sigindo
Diperkirakan
bahwa sekitar abad ke 6 M di wilayah Alam Kerinci, telah terbentuk
negeri-negeri yang secara terpisah mempunyai pemerintahan sendiri. Sebuah
komunitas masyarakat sudah barang tentu mencari pemimpin dari orang-orang yang
mempunyai pengaruh dan disegani dalam kelompoknya. Biasanya mereka juga
merupakan orang yang diyakini memiliki kesaktian sehingga diharapkan dapat
melindungi negeri dari berbagai mara bahaya yang ditimbulan manusia, alam,
binatang, maupun roh-roh jahat. Munculnya pemimpin-pemimbin negeri baru ini
diperkiranan seiring dengan pertumbuhan negeri-negeri di Alam Kerinci yaitu
sekitar abad ke 6 M. Para pemimpin negeri itu, dikenal dengan sebutan Sigindo
atau kepala kaum/kelompok darisuatu komunitas keturunan dari kelompok
masyarakat yang mendiami suatu daerah tertentu, dimana sekaligus merangkap
sebagai kepala pemerintahan dari suatu wilayah negeri.
Sebuah
negeri Sigindo teridiri atas beberapa buah dusun, dimana di dalam sebuah dusun
terdapat kelompok kekarabatan masyarakat seketurunan. Pada kelompok kekarabatan
ini masih terdapat lagi kelompok yang lebih kecil kaitu kumpulan dari
kelompok-kelompok kekeluargaan, sedangkan strata masyarakat yang paling kecil
adalah keluarga. Masing-masing strata kekarabatan mulai dari unit yang terkecil
dipimpin oleh seorang kelompk yang ditunjuk dan dipilih menurut ketentuan adat
yang berlaku.
Dalam
perkembangan selanjutnya, untuk unit keluarga terkecil disebut denan Tumbi oleh
kepala Tumbi atau kepala keluarga. Kempulan dari beberapa unit keluarga kecil
(tumbi) dalamlingkup kekarabatan seketurunan disebut dengan istilah Perut, dan
dipimpin oleh Tengganai. Lapisan berikutnya merupakan dari beberapa Perut
disbeut dengan istilah Kelebu dan dipimpin oleh kepala Kelebu yang lazim
disebut sekarang dengan istilah Ninik Mamak. Sedangkan kumpulan dari
kekerabatan Kelebu disebut dengan ‘luhak; atau lurah yang dipimpin oleh seorang
kepala lurah yang lazim disebut dengan Depati. Masing-masing strata di atas
mempunyai tugas dan tanggung jawab sendiri-sendiri yang pada intinya menuntun
dan membimbing masyarakat untuk dapat mentaati norma dan kententuan adat
negeri.
Melalui
strata kemasyarakatan di atas, segala bentuk kebijakan pemerintah negeri
disampaikan secara beranting ke bawah. Melalui alir system ini dilakukan
pengendalian terhadap komponen masyarakat atau warga yang terhimpun dalam
sebuah negeri Sigindo. Masing-masing pemimpin pada strata masyarakat yang
terbentuk memikul tugas dan tanggung jawab membina dan mengurus anak negeri
atau kaum kerabatnya.
Bila
sebuah negeri Sigindo hanya merupakan sebuah dusun, maka berarti Sigindo yang
memerintah hanya memeritnah strata kelompok masyarakat yagn berada alam lingkup
dusun itu saja. Namun apabila sebuah negeri Sigindo terdiri atas banyak dusun
dibawahnya, maka Sigindo yang berkuasa berarti memerintah dan mengatur seluruh
strata kemasyarakatan yang terdapat pada beberapa dusun. Makin banyak
dusun-dusun yang berada di bawah sebuah pemerintahan Sigindo menunjukkan besarnya
kekuasaan seorang Sigindo.
Pada
pemerintahan para Sigindo dikisahkan bahwa kehidupan masyarakat di Alam Kerinci
berjalan dengan baik. Masyarakat dapat hidup aman, tentram dan makmur.
Pemerintahan Sigindo semakin meluas sehingga di Alam Kerinci terdapat banyak
negeri yang dibawah kepemimpinan Sigindo. Banyak diantara negeri Sigindo
tersebut berasal dari induk Sigindo yang sama atau negeri tersebut berasal dari
induk negeri yang serumpun, namun secara otonom masing-masing menjalankan
pemerintahan secara terpisah.
Masing-masing
mengurus dan mengatur kepentingan penduduk negerinya tanpa ikut sampur Sigindo
asalnya. Tidak ada Sigindo yan gberada dibawah kekuasaan Sigindo yang lain,
atau satu Sigindo takluk pada kekuasaan sebuah pemerintahan Sigindo lainnya.
Walaupun tidak terdapat hubungan secara hirarki dengan pemerintahan Sigindo
negeri asal, namun pemerintahan Sigindo yang berumur lebih tua (Sigindo asal)
selalu dihormati oleh Sigindo yang lebih baru.
Negeri
Sigindo yang keberadaanya lebih muda sunggupun tidak berada dibawah kekuasaan
atau pengaruh Sigindo asal, akan tetapi mereka selalu mengikuti langkah
kebijakan pendahulunya dalam meminpin negeri. Perselisihan antara negeri
Sigindo jarang diceritakan, karenanya boleh dikatakan jarang terjadi. Kalaupun
ada, itupun hanya terjadi antara Sigindo pada tingkatan lapisan di bawah atau
antara negeri Sigindo yang berbeda asal. Perselisihan biasanya akan dapat
diselesaikan melalui peran Sigindo-Sigindo asalnya. Indilah diantara kekhasan
dari pemerintahan Sigindo di Alam Kerinci.
2.
Wilayah Sigindo-Sigindo
Dalam
pertumbuhannya, sebagaimana kebanyakan pemerintahan negeri-negeri pada masa
lalu, ada negeri yang kuat dan berkembang, sebaliknya adapula yang tidak mampu
bertahan dan akhirnya tenggelam atau lenyap. Hal tersebut juga berlaku terhadap
negeri-negeri Sigindo di Alam Kerinci, dimana tidak semua negeri Sigindo dapat
tumbuh menjadi negeri yang makmur dan kuat. Bagi negeri yang tidak mampu
berkembang, maka secara alamiah lenyap dengan sendirinya.
Bilamana
suatu negeri Sigindo tidak dapat bertahan lagi, maka biasanya rakyat negeri
tersebut akan memilih bergabung dengan negeri Sigindo lain, yaitu dengan negeri
Sigindo yang lebih kuat dan makmur. Kondisi ini merupakan seleksi alamiah yang
terjadi terhadap kemapanan dari suatu pemerintahan Sigindo yang tersebar di
Alam Kerinci. Sehingga pada akhirnya pemerintahan Sigindo yang bertahan, memang
benar-benar pemerintahan Sigindo yang telah terusji kemapanannya.
Dari
sekian banyak negeri Sigindo di Alam Kerinci, diantaranya yang sering disebut
orang untuk Kerinci Tinggi adalah:
1. Sigindo Batinting (Segerinting atau
Keninting) terletak di wilayah Selatan Danau Kerinci. Wilayah ini diduga
merupakan lokasi bekas dusun purba Jerangkang Tinggi. Di wilayah ini terdapat
beberapa dusun yang dulunya berkembang pesat dan maju.
2. Sigindo Sakti yang lokasinya
diperkirakan terletak dibagian timur dusun Lempur. Negeri dalam wilayah tanah
Sigindo ini adalah dusun-dusun yang berasal dari dusun purba Tanjung Muara
Sekiau.
3. Sigindo Balak wilayahnya memayungi
negeri-negeri yang berasa dari bekas dusun pubra Renah Punti. Daerah tanah
Sigindo ini diperkirakan disekitar dusun Serampas sekarang.
4. Sigindo Elok Misai yang diperkirakan
berada disekitar dusun Jangkat (Muara Maderas). Negeri tanah Sigindo ini berasal
dari dusun purba Koto Mutun.
5. Sigindo Bauk diperkirakan berada
dekat dusun Tamiai sekarang. Negeri dari tanah Sigindo ini berasa dari dusun
purba Muara Sekiau berlokasi di tepi Batang Merangin.
6. Sigindo Teras diperkirakan berlokasi
disekitar dusun Pengasi, yang berasal dari dusun purba Jerangkang Tinggi.
7. Sigindo Kumbang diperkirakan
berlokasi di daerah Jujun di pinggir Danau Kerinci. Wilayah Sigindo ini berasal
dari dusun purba Jerangkang Tinggi.
8. Sigindo Kerau diperkirakan berlokasi
di dusun Selemean sekarang. Negeri dibawah tanah Sigindo ini berasal dari dusun
purba Koto Jelatang.
9. Sigindo Keramat diperkirakan
berlokasi di luar dusun Hiang sekarang. Negeri yang tercakup disini berasal dari
dusun purba Koto Jelatang.
10. Sigindo Kecik diperkirakan berlokasi di
luar dusun Tanah Kampung sekarang. Negeri yang terlingkup dalam wilayah
kekuasaan Sigindo Kecik berasal dari dusun purba Koto Beringin.
11. Sigindo Siung diperkirakan berlokasi
di daerah perbukitan di sekitar dusun Kumun sekarang. Negeri yang berada di
bawah tanah Sigindo ini beradal dari dusnu purba Talang Betung.
12. Sigindo Panjang Rambut diperkirakan
berlokasi di atgas bukit dekat dusun Sungai Liuk sekarang. Negeri yang berada
dibawah tanah Sigindo ini berasal dari dusun purba Koto Beringin.
13. Sigindo Merak diperkirakan berlokasi
di atas perbukitandekat dusun Tebat Ijuk sekarang. Negeri yang masuk wilayah
ini berasal daeri dusun purba Koto Limau Sering.
14. Sigindo Junjung diperkirakan
berlokasi di Tanjung Kerbau Jatuh (Sanggaran Agung) sekarang. Negeri yang
berada dibawah tanah Sigindo ini berasal dari pemekaran dusun purba Jerangkang
Tinggi.
15. Sigindo Siah tanah Sigindo Rawo,
tanah Sigindo Batinting dan tanah Sigindo Bujang diperkirakan berlokasi di
sekitar dusun Pulau Sangkar sekarang. Negeri yang ini berasal dari dusun purba
Jerangkang Tinggi.
16. Sigindo Kuning berlokasi di daerah
Pratin Tuo (dusun Tuo). Negeri yang berada di bawah Sigindo ini berasal dari
dusun purba Lapai Tuo. Daerah ini disebelah Timur Serampas.
Sedangkan
untuk daerah Kerinci Rendah tanah Sigindo yang sering dituturkan adalam
perbincangan tetua masyarakat adalah:
1. Sigindo Segilintang berada disekitar
daerah Pamenang sekarang. Negeri yang berada dalam lingkup tanah Sigindo ini
berasal dari dusun purba Sungai Lintang.
2. Sigindo Timben berada pada daerah
sekitar dusun Sungai Manau sekarang. Negeri yang berada dalam lingkup wilayah
ini berasal dari dusun purba Timben.
3. Sigindo Pengantung wilayahnya berada
pada daerah sekitar Pangkalan Jambu sekarang. Sigindo ini menerintah negeri
yang berasal dari dusun purba Pengantung.
4. Sigindo Malgan wilayahnya juga berada
pada daerah sekitar Pangkalan Jambu. Negeri yang berada dalam lingkup tanah
Sigindo ini berasa dari dusun purba Malgan.
5. Sigindo Simukun wilayahnya berada
disekitar Nalo dan Tantan sekarang. Negeri yang berada dalam lingkup wilayah
ini beradal dari dusun purba Muaro Simukun.
6. Sigindo Demahu wilayahnya juga berada
pada daerah sekitar Nalo dan Tantan sekarang. Seang negeri yang berada dalam
lingkup tana seginda oni beradal dari dusun purba Demahu.
7. Sigindo Buluh wilayah berada pada
daerah sekitar Nalo dan Tantan. Negeri yang berada dalam lingkup tanah Sigindo
ini berasal dari dusun purba Lubuk Buluh.
3.
Ekspansi (perluasan)
Kerajaan Sriwijaya
Pada masa kejayaannya, keberadaan negeri
Sigindo di Alam Kerinci telah menjadi pembicaraan dari banyak kerajaan atau
pemerintahan pada waktu itu. Perkembangan ini berpengaruh cukup besar terhadap
eksistensi pemerintahan negeri-negeri Sigindo. Kekawatiran akan terjadi
perselisihan di antara negeri Sigindo yang disebabkan perebutan pengaruh dari
kerajan luar mungkin saja terjadi. Para Sigindo menyadari akan potensi komplik
ini, maka untuk itu para Sigindo yang berpengaruh di Alam Kerinci lalu
memprakarsai langkah-langkah konsolidasi ke arah persatuan dan kesatuan
negeri-negeri Sigindo.
Prakarsa ke arah terbentuknya persatuan
ini telah melahirkan Negara Sigindo Alam Kerinci yang bernaung dalam satu
payung pemerintahan yang terkoordinasi pada tahun 644 M. Pusat pemerintahan
kolektif ini berkedudukan di Jerangkang Tinggi sengan Sigindo rumpun kerabat
tertua yaitu Sigindo Batinting dari Jerangkang Tinggi di Sungai Musi.
Kepindahan pusat kerajaan diduga karena posisi Muara Takus sebagai pusat
pengendalian kekuasaan kurang strategis bagi perkembangan masa depan kerajaan.
Dalam Prasasti Kedukan Bukit tahun 683 M
disebutkan mereka pindah dengan membawa tentara sebanyak 20.000 orang
menggunakan perahun dan 1.312 orang berjalan kaki. Mengendalikan kekuatan besar
itu, mereka lalu membangun Kedukan Bukit diantaranya, negara Sigindo menjalin
persahabatan dengan kerajaan tetangga yaitu kerajaan Malayu. Hubungan baik ini
telah dibina cukup lama dan kedua belah pihak mendapat manfaat yang saling
menguntungkan terutama dalam perniagaan diantara penduduk negeri.
Kerajaan
Sriwijaya berasa dari kaki Gunung Dempo di pergunungan Bukit Barisan di tengah
pulau Sumatera bagian selatan. Dari sini mereka turun mengikuti aliran sungai
Musi dan pada tahun 682 M mereka membuat ibukota di Kedukan Bukit. Kepindahan
ini diperkuat oleh prasasti Talang Tuo tahun 684 M yang ditemukan tidak berapa
jauh dari Kedukan Bukit. Sebagaimana disebutkan dalam prasasti Kedukan Bukit,
dengan kekuatan bala tentara yang besar mereka membangun kerajaan dan kemudian
menaklukkan daerah sekitarnya.
Kerajaan Sriwijaya yang berambisi untuk
mengukuhkan pengaruh da kekuasaannya atas bumi nusantara terus melakukan
ekspansi ke daerah-daerah disekitarnya dengan mengirim pasokan dan armada
perang yang tangguh. Salah satu daerah terdekat yang menjadi sasrajaan Melayu,
pengaruh kerajaan Sriwijaya juga sampai ke daratan Asia Tenggara, seperti
Malaysia (Tanjung Kra), Birma, Kamboja, Annam dan kepulauan Filipina.
Daerah-daerah itu sebelumnya berada dibawah pengaruh kekuasaan kerjaan Melayu.
Masih dalam abad ke 7 M ekspansi
kerajaan Sriwijaya juga dilakukan ke daerah Selatan dengan menaklukkan kerajaan
Tulang Bawang di daerah Lampung. Setelah itu, kerajaan Sriwijaya mengukuhkan
pula kekuasaannya ata pulau Bangka (Prasasti Kota Kapur tahun 686 M). Ekspansi
tidak terhenti di sini karena diteruskan ke pulau Jawa. Berbarengan dengan
ekspansi ke pulau Jawa, kerajaan Sriwijaya ra matang.
Persiapan dilakukan mengingat posisi
kerajaan Melayu merupakan satu kerajaan terkuat di Sumatera. Setelah segala
sesuatu dipersiapkan dengan baik, maka penyerangan lalu dilaksanakan baik
melalui darat maupun laut terhadapdaerah-daerah pusat kekuatan kerajaan Melayu.
Gempuran yang dilakukan berkali-kali dari berbagai penjur wilayah menyebabkan
kerajaan menjadi amat kewalahan. Upaya yang melelahkan dan memakan banyak
korban jiwa mapun materi itu, akhirnya membuahkan hasil dengan takluknya
kerajaan Melayu.
Diperkirakan pada sekitar pertengahan
abad ke 6 M kerajaan Sriwijaya dapat menguasai hampir sebagian besar wilayah
kerajaan Melayu. Kekalahan kerahaan Melayu telah menempatkan kerajaan Sriwijaya
tumbuh dan berkembang dengan cepat. Sama halnya dengan kerajaan Melayu,
pengaruh kerajaan Sriwijaya juga sampai ke daratan Asia Tenggara, seperti
Malaysia (Tanjung Kra), Birma, Kamboja, Annam dan kepulauan Filipina.
Daerah-daerah itu sebelumnya berada dibawah pengaruh kekuasaan kerjaan Melayu.
Masih dalam abad ke 7 M ekspansi
kerajaan Sriwijaya juga dilakukan ke daerah Selatan dengan menaklukkan kerajaan
Tulang Bawang di daerah Lampung. Setelah itu, kerajaan Sriwijaya mengukuhkan
pula kekuasaannya ata pulau Bangka (Prasasti Kota Kapur tahun 686 M). Ekspansi
tidak terhenti di sini karena diteruskan ke pulau Jawa. Berbarengan dengan
ekspansi ke pulau Jawa, kerajaan Sriwijaya melakukan pula penyerangan ke
daerah-daerah pedalaman pulau Sumatera. Salah satu daerah yang menjadi sasaran
adalah negara Sigindo Alam Kerinci. Kerajaan Sriwijaya kelihatan sangat
berkepentingan terhadap negeri-negeri Sigindo, karena wilayah Alam Kerinci di
bawah pemerintahan para Sigindo selama ini diketahui sebagai daerah pemasok
berbagai komoditi dagang untuk pasar manca negara.
4.
Kerinci Rendah Dikuasai Sriwijaya
Selama terjadi komplit antara kerajaan
Sriwijaya dengan kerajaan Melayu pasokan komoditi perdagangan dari daerah Alam
Kerinci terasa sangat menurun. Demikian juga setelah kerajaan Sriwijaya
menaklukkan kerajaan Melayu arus barang-barang melalui daerah Jambi dan Alam
Kerinci volumenya terus berkurang. Menurunnya pasokan komoditi dagang yang berasal
dari daerah Alam Kerinci ke jalur perdagangan pantai timur Jambi dikarenakan
negeri-negeri Sigindo telah mulai mengalihkan jalur perdagangan ekspornya ke
pelabuhan-pelabuhan pantai Barat Sumatera yang kebetulan lagi berkembang.
Perubahan jalur perniagaan ini dilakukan
para pedagang negeri Sigindo atas pertimbangan keamanan yang sulit untuk
diatasi. Selain itu, kebetulanpula pelabuhan samudra di pantai Barat mulai
banyak digunakan armada dagang manca negara dari daratan India dan Asia
Tenggara. Perubahan situasi ini memberikan prospek yang cukup baik bagi
negeri-negeri disekitar pantai Barat dalam perniagaan, mengingat perairan Selat
Malaka semakin tidak kondusif untuk dilayani.
Akan tetapi kerajaan Sriwijaya
beranggapan bahwa negeri-negeri Sigindo Alam Kerinci sengaja melakukan
pembangkangan. Sebenarnya apa yang dikemukakan kerajaan Sriwijaya hanya
merupakan alasan semata. Pada hal sebenarnya kerajaan Sriwijaya berambisi
menaklukkan seluruh pemerintahan atau kerajaan-kerajaan yang terdapat disekitarnya.
Kecongkakan yang tidak bias dibendung lagi, lalu mereka wujudkan dengan
mengerang negeri-negeri Segindo pada wilayah Kerinci Rendah. Daerah ini
merupakan wilayah yang dulunya berbatasan langsung dengan kerajaan Melayu.
Untuk menyerang Kerinci, Rendah,
kerajaan Sriwijaya mengerahkan kekuatan darat dan armada lautnya. Pasukan darat
didatangkan melalui Jambi dan Rawas, sedangkan armada laut didatangkan dengan
melewati jalur sungai Batanghari, terus menelusuri sungai Batang Tembesi dan
kemudianmasuk ke daerah Kerinci Rendah melalui sungai Batang Merangin.
Mengingat perahu-perahu pengangkut pasokan sulit untuk berlayar jauh lebih ke
hulu lagi menelusuri Batang Merangin dan Matang Masumai yang dangkal dan
berbatu, maka pasokan didaeratkan diujung Muara Mesumai (Bangko). Tempat ini
lalu dijadikan sebagai basis penyerangan ke daerah-daerah Kerinci Rendah.
Dari Muara Mesumai serangan pertama
dilakukan terhadap tanah Sigindo Sungai Lintang yaitu daerah di sekitar anak
Sungai Batang Lintang yang bermuara ke Batang Merangin. Wilayah ini sekarang
berapa pada sekitar daerah Kecamtan daerah Sigindo Sungai Lintang dengan mudah
dapat dikuasai. Dari sini pasokan melanjutkan penyeranganke daerah tanah
Sigindo Timben, Pengantungan, Malgan, Semukun, Lubuk Buluh dan tanah Sigindo
Damahu. Penyerangan tahap ke dua mendapat perlawanan yang keras dari rakyat
Kerinci Rendah. Namun karena pasukan Sriwijaya dengan kekuatan yang besar dan
peralatan perang yang lengkap. Perlawanan rakyat Kerinci Rendah dapat
dipatahkan.
Setelah menaklukkan Daerah Kerinci
Rendah, pemerintahan Sriwijaya membuat sebuah prasasti yang berupa peringatan
kepada daerah pendudukan Sriwijaya untuk selalu tunduk kepada Kerajaan
Sriwijaya. Bagi penduduk yang berniat untuk melawan pemerintahan kerajaan
Sriwijaya atau penduduk yang melakukan kejahatan akan dikutuk oleh dewa
penguasa alam. Prasasti ini dikenal dengan nama Prasasti Karang Birahi.
Prasasti Karang Birahi ditemukan di pinggir Sungai Batang Merangin di Dusun
Karang Birahi di wilayah Kerinci Rendah tepatnya di Kecamatan Pemenang
Kabupaten Merangin sekarang.
Prasasti Karang Birahi, prasasti ini berada berjarak
lebih kurang 25 km dari Bangko ibukota Kabupaten Merangin. Prasasti ini
bertulis :
di
dalanan bhumi ajnana kadatuan
ini parawis o dhrohaka wanun o samawuddhi lawan
drohaka o man
ini parawis o dhrohaka wanun o samawuddhi lawan
drohaka o man
Bahasa Melayu Kuno yang dipakai tersebut
besar dugaaan adalah bahasa Kerinci Kuno, mengingat bahasa Kerinci merupakan
bagian dari bahasa Melayu. Menurut J.G.
de Casparis seorang ahli sejarah dan purbakala Belanda yang telah membaca
tulisan ini berpendapat bahwa isi dari Prasasti Karang Birahi bermakna
permohonan kepada para dewa untuk melindungi kekuasaan Kerajaan Sriwijaya dan
menghukum setiap orang yang bermaksud jahat dan durhaka kepada kerajaan, serta
melindungi keselamatan orang yang taat dan setia.
keamwal
o saramwat o kasi
han
o wasika rana
iyewamad o janan muah ya siddha o pulan ke yah muah yan dosa
iyewamad o janan muah ya siddha o pulan ke yah muah yan dosa
na
wuatna jaha inan o
...............................(titik bagian yang tidak dapat dibaca)
...............................
...............................
...............................(titik bagian yang tidak dapat dibaca)
...............................
...............................
..............................
ini gran kadaci iya bhakti tatwarjjawa di
yaku o dnan di yan ni
ini gran kadaci iya bhakti tatwarjjawa di
yaku o dnan di yan ni
galarkuasanyasa
datua o
santi muah kawuatana o dnan gotra santanaa o
samddha
santi muah kawuatana o dnan gotra santanaa o
samddha
swastha
o nirogo o nirupadrawa subhiksa
muah yan wanuana parawis //
muah yan wanuana parawis //
Terjemahan
(Sumber Museum Negeri Jambi, 1992) :
Tercapailah sudah maksud kita sampai tanda ini, tandrun kayet
Yang melakukan pemberontakan, bertemu tanding melawan tandrua-dosa
orang yang tabianya jahat, namun apabila mereka berbhakti dan setia kepada mereka yang
sudah kuangkat menjabat daujari drohaka o niujari drohaka tahu din
drohaka o tida (9) ya marpphadah tidy a bhakti o
tatwarjjawa diyaku o dnan di iyan nigalarku ganyasa
datua o niwunuh (10) ya sumpah
nisuruh tapik ya mulan o parwwandan datu sriwijaya o
talu muah ya dnan (11) gora santanana o tathapi
sawanakna yan wuatna jaha o maka lanit uran o
maka sa (120 kit o maka gila o matragada o wisaprayoga o upah
tuwa o tamwal o saramwat o kasi (13) han o wasika rana
Tercapailah sudah maksud kita sampai tanda ini, tandrun kayet
Yang melakukan pemberontakan, bertemu tanding melawan tandrua-dosa
orang yang tabianya jahat, namun apabila mereka berbhakti dan setia kepada mereka yang
sudah kuangkat menjabat daujari drohaka o niujari drohaka tahu din
drohaka o tida (9) ya marpphadah tidy a bhakti o
tatwarjjawa diyaku o dnan di iyan nigalarku ganyasa
datua o niwunuh (10) ya sumpah
nisuruh tapik ya mulan o parwwandan datu sriwijaya o
talu muah ya dnan (11) gora santanana o tathapi
sawanakna yan wuatna jaha o maka lanit uran o
maka sa (120 kit o maka gila o matragada o wisaprayoga o upah
tuwa o tamwal o saramwat o kasi (13) han o wasika rana
iyewamad o janan muah ya siddha o pulan ke yah
muah yan dosa (14) na wuatna jaha inan o
–..................................
–..................................(titik bagian yang tidak dapat dibaca)
–..................................
–..................................
–..................................
ini gran kadaci iya bhakti tatwarjjawa di
yaku o dnan di yan ni (15) galarkuasanyasa datua o
santi muah kawuatana o dnan gotra santanaa o
samddha (16) swastha o nirogo o nirupadrawa subhiksa
muah yan wanuana parawis //
–..................................
–..................................(titik bagian yang tidak dapat dibaca)
–..................................
–..................................
–..................................
ini gran kadaci iya bhakti tatwarjjawa di
yaku o dnan di yan ni (15) galarkuasanyasa datua o
santi muah kawuatana o dnan gotra santanaa o
samddha (16) swastha o nirogo o nirupadrawa subhiksa
muah yan wanuana parawis //
Terjemahan (Sumber Museum Negeri Jambi, 1992) :
1.
Tercapailah sudah
maksud kita sampai tanda ini, tandrun kayet
2.
Yang melakukan
pemberontakan, bertemu tanding melawan tandrun lua (raja sungai), matilah dia
oleh
3.
tandrun luah,
dibunuhla si pemberontak itu. Jangan terjadi lagi pemberontakan si kayet.
4.
itu sudah tenang
(padam). Haturkan bhaktimu kepada ku. Itu sudah (menjadikan) tenang. (hai) kamu
semua
5.
para dewa yang
berkuasa dan hadir (disini), yang menjaga kedatuan Sriwijaya. Demikian pula
kamu tandrun luah.
6.
dan semua dewa
yang menjadi asal mula mantra kutukan ini jika orang
7.
di dalam seluruh
kekuasaanku ada yang memberontak atau yang bersekongkol de-
8.
ngan
pemberontakkan, berbicara dengan pemberontak. Mendengarkan (rencana)
pemberontakan. Mengetahu pemberontakan tidak
9.
menghormati dan
tidak berbhakti dan setia kepadaku, dan mereka yang sudah kuangkat menjabat daerah
dan perkembangan dari satu kaum yang akhirnya membentuk suatu daerah kekuasaan
atas kaum tertentu dan untuk wilayah kekuasaan tertentu.
Wilayah kekuasaan Sigindo Sigarinting
terletak di wilayah Kerinci Tinggi yang berpusat di Jerangkang Tinggi (sekitar
daerah Desa Muak sekarang, di pinggir Danau Kerinci). Sungguhpun telah berhasil
menaklukkan negeri Sigindo di daerah Kerinci Rendah dengan susah payah kemudian
menguasainya dalam waktu yang cukup lama (lebih dari 3 abad alamnya). Kemudian
timbul keinginan untuk menaklukkan seluruh negeri Sigindo Alam Kerinci tidaklah
surut. Selama ini wilayah Kerinci Tinggi belum pernah mereka taklukkan karena
untuk menyerang daerah tersebut tidak sulit dan harus membelah hutan belantara
yang sangat ganas.
5.
Kerajaan Sigindo Sigarinting Alam Kerinci Perang
Melawan Sriwijaya
Wilayah Kerinci Tinggi dikomandoi oleh
Sigindo Sigarinting. Pemerintahan Sigindo Sigarinting berlangsung dalam kurun
waktu yang cukup lama mulai dari abad ke 6 Masehi sampai dengan terbentuknya
Pemerintahaan Depati Empat Alam Kerinci. Pemerintahan Sigindo Sigarinting
seperti juga dengan sigindo-sigindo lainnya terlahir dari pertalian darah dan
perkembangan dari satu kaum yang akhirnya membentuk suatu daerah kekuasaan atas
kaum tertentu dan untuk wilayah kekuasaan tertentu. Wilayah kekuasaan Sigindo
Sigarinting terletak di wilayah Kerinci Tinggi yang berpusat di Jerangkang
Tinggi (sekitar daerah Desa Muak sekarang, di pinggir Danau Kerinci).
Sungguhpun telah berhasil menaklukkan
negeri Sigindo di daerah Kerinci Rendah dengan susah payah kemudian
menguasainya dalam waktu yang cukup lama (lebih dari 3 abad alamnya). Kemudian
timbul keinginan untuk menaklukkan seluruh negeri Sigindo Alam Kerinci tidaklah
surut. Selama ini wilayah Kerinci Tinggi belum pernah mereka taklukkan karena
untuk menyerang daerah tersebut tidak sulit dan harus membelah hutan belantara yang
sangat ganas.
Pasukan Sriwijaya ingin masuk ke daerah
Kerinci Tinggi yang kaya dengan produk perdagangan yang sangat diminati oleh
negara luar, disamping itu daerah ini juga merupakan basis kekuasaan
pemerintahan negeri-negeri Sigindo. Akan tetapi menyerang Kerinci Tinggi
bukanlah hal yang mudah. Pasukan Sriwijaya menyadari bahwa mereka akan
dihadapkan dengan tentangan yang lebih berat.
Perlawanan dari pasokan dan rakyat
negeri-negri Sigindo di Kerinci Tinggi tentu akan lebih sengit. Negeri-negeri
Sigindo di Kerinci Tinggi telah siaga menyongsong kedatangan mereka. Selain
itu, pasukan Sriwijaya menyadari pula bahwa mereka akan berhadapaan dengan
kondisi alamangat membara dari pasukan negeri Sigindo beserta rakyat
disekitarnya dalam menghadapi pasukan Sriwijaya menyebabkan pasukan Sriwijaya
dapat dipumpas.
Tak seorangpun dibiarkan meloloskan
diri, semuanya mati dalam pertempuran. Sebagai peringatan atas kejadian
tersebut, maka tempat dimana berlangsungnya pertempuran sengit itu, lalu diberi
nama dengan Telaga Darah. Walaupun peristiwa peperangan terjadi ratusan tahun
yang silam, namun sampai kini lokasi Telaga Darah di Bukit Melegan selalu
dikenang rakyat Kerinci sebagai tempat kemenangan pasukan Sigindo atas pasukan
Kerajaan Sriwijaya.
Berita kekalahan pasukan Sriwijaya di
Kerinci Tinggi, kemudian diterima induk pasukan yang bermarkas di Kerinci
Rendah. Sudah barang tentu hal ini amat menyakitkan, karena tnan tertinggi
Negara Sigindo Alam Kerinci. Koordinasi dilakukan para pemimpin negeri Sigindo
di seluruh Kerinci Tinggi untuk menghadapi kedatangan pasukan Sriwijaya yang
akan menduduki daerah Kerinci Tinggi.
Setelah segala sesuatu dipersiapkan
mulai dari perbekalan, taktik dan strategi perang, maka pasukan negeri-negeri
Sigindo lalu diberangkatkan untuk menghadang musuh. Pada suatu tempat di Bukit
Malegan dekat dusun Pulau Sangkar sekarang, kedua pasukan bertemu dan
terjadilah pertempuran sengit. Pasukan Sriwijaya karena tidak menguasai medan
perang dan telah lelah melawan keganasan alam dengan mudah dapat
diporak-porandakan.
Semangat membara dari pasukan negeri
Sigindo beserta rakyat disekitarnya dalam menghadapi pasukan Sriwijaya
menyebabkan pasukan Sriwijaya dapat dipumpas. Tak seorangpun dibiarkan
meloloskan diri, semuanya mati dalam pertempuran. Sebagai peringatan atas
kejadian tersebut, maka tempat dimana berlangsungnya pertempuran sengit itu,
lalu diberi nama dengan Telaga Darah. Walaupun peristiwa peperangan terjadi
ratusan tahun yang silam, namun sampai kini lokasi Telaga Darah di Bukit
Melegan selalu dikenang rakyat Kerinci sebagai tempat kemenangan pasukan
Sigindo atas pasukan Kerajaan Sriwijaya.
Berita kekalahan pasukan Sriwijaya di
Kerinci Tinggi, kemudian diterima induk pasukan yang bermarkas di Kerinci
Rendah. Sudah barang tentu hal ini amat menyakitkan, karena tidak seorangpun di
antara mereka yang dapat kembali. Kekalahan di Telaga Darah merupakan tamparan
yang amat berat bagi kelanjutan ekspedisi pasukan Sriwijaya. Akhirnya, mereka
lau mengurungkan niatnya untuk menyerang kembali Kerinci Tinggi. Keputusan
diambil atas pertimbangan medan yang sangat berat di wilayah Kerinci Tinggi dan
kekuatan pasukan Sigindo Sigarinting dan sigindo-sigindo lain yang telah
bersatu berjuang mempertahankan wilayah Kerinci Tinggi tida bisa diremehkan.
Sungguhpun keinginan menyerang daerah
Kerinci Tinggi tidak dilanjutkan, akan tetapi pendudukan atas wilayah Kerinci
Rendah tetap dipertahankan. Kerajaan Sriwijaya sangat berkepentingan terhadap
Kerinci Rendah, karena daerah ini sangat potensial dalam pertambangan emas.
Dalam mengukuhkaajaan Sriwijaya, daerah Kerinci Tinggi tidak pernah dapat
ditundukkan, sehingga daerah Kerinci Tinggi adalah satu-satunya wilayah di
Sumatera yang tidak pernah takluk oleh kerajaan Sriwijaya (sampai abad ke 9
Masehi, Kerajaan Sriwijaya berakhir). Semenjak itu Kerinci Tinggi secara turun
temurun diperintah oleh siapa saja yang diangkat oleh masyarakat adat untuk
silih berganti menyandang gelar Sigindo Sigarinting sampai pada abad ke 13
Masehi.
6.
Sigindo Sigarinting Dan Tuanku Siah Rao
Abad ke 13 Masehi, Tuanku Siah Rao
adalah salah seorang keluarga Kerajaan Malayu di Pagarruyung yang pergi
mengasingkan diri dan. Prasasti sengaja ditempatkan di sini karena dusun Karang
Birahi merupakan tempat persinggahan orang-orang yang keluar masuk Kerinci
Renluarga dan pengawal lainnya dari Negeri Selampaung sebagai teman dalam
perjalanan.
Beliau ini mempunyai semangat juang dan kekuatan batin yang sangat kuat sehingga dapat memenangkan setiap pertempuran di perjalanan, sehingga akhirnya sampai di suatu daerah yang disebut Jerangkang Tinggi. (sekitar daerah Desa Muak sekarang, di pinggir Danau Kerinci). Di Jerangkang Tinggi terdapat tiga orang penguasa yang cukup disegani, yakni:
Beliau ini mempunyai semangat juang dan kekuatan batin yang sangat kuat sehingga dapat memenangkan setiap pertempuran di perjalanan, sehingga akhirnya sampai di suatu daerah yang disebut Jerangkang Tinggi. (sekitar daerah Desa Muak sekarang, di pinggir Danau Kerinci). Di Jerangkang Tinggi terdapat tiga orang penguasa yang cukup disegani, yakni:
1.
Kerenggo Bungkuk.
2. Lemutung Hitam
3. Tebun Tandang
2. Lemutung Hitam
3. Tebun Tandang
Dalam perebutan kekuasaan terjadilah
perkelahian yang sangat sengit. Alhasil adalam perkalian ini ”meninting-balui”,
artinya tidak ada yang kalah dan yang menang, sehingga akhirnya diadakan
perundingan damai dengan cara: menyabung ayam. Setelah taji dibuang
timbal-balik ayam telah dilepas berlaga dengan sengitnya. Masing-maisng
menghimbau tuah. Tuanku Siah Rao menghimbau tuah sambil menghentakkan
tongkatnya yang mana diujung tongkatnya tersebut berisi tanah dari Pagarruyung.
Tuah dihimbau: ”Kalau tidak ujung tanah Pagarruyung tentang ini kalahlah saya, kalau
ada ujung tanah Pagarruyung tentang ini, maka menanglah saya”. Pertandingan
akhinya Tuanku Siah Rao memenangkan pertandingan. Setelah menang beliau
diangkat secara adat menguasai wilayah Sigindo Segerinting dan namun masyarakatnya
juga memanggil beliau dengan gelar Sigindo Batinting. Batinting dalam bahasa
Kerinci Kuno berarti seseorang yang tahan tinting, tahan terhadap pukulan,
tahan terhadap bantingan dan segala senjata tajam dalam perkelahian tiga lawan
satu ketika melawan penguasa di sekitar Jerangkang tinggi yaitu Kerenggo
Bungkuk, Lemutung Hitam dan Tebun Tandang.
Semenjak itu Sigindo Batinting mengatur
Pemerintahan di wilayah Kerinci Tinggi (wilayah Sigindo Sigarinting). Karena
Jerangkang Tinggi terletak di atas bukit (dekat desa Muak dan Pondok sekarang),
transportasi untuk mengatur pemerintahan cukup sulit karena sebagian dusun dan
permukiman penduduk berada dipinggir sungai dan danau. Oleh sebab itu beliau
memindahkan pusat pemerintahaan ke daerah pinggiran sungai yang strategis yaitu
di atas sebuah pulau dipinggir Batang Merangin. Tempat ini beliau beri nama ”Pulau Sangkar”, demi untuk mendekatkan
nama dengan daerah yang ditinggal beliau yaitu Batu Sangkar. Orang-orang yang
telah kalah dalam pertandingan diangkat menjdai sabahat yang menguasai wilayah
tertentu.
1.
Karenggo Bungkuk,
diberi kekuasaan untuk memerintah dan menguasai daerah Lubuk Paku dan diberi
gelar Menggung.
2.
Lemutung Hitam,
diberi wilayah kekuasaan tetap di Jerangkang Tinggi (Muak) dan bergelar Rio.
3.
Tebun Tandang,
diberi wilayah kekuasaan berdampingan dengan wilayah Pulau Sangkar yaitu Dusun Pondok
dan diberi gelar Mangku.
4.
Sedangkan
orang-orang yang ikut bersama beliau dari Selampaung Pagarruyung dianggap
sebagai keluarga sendidi diberi kekuasaan disatu wilayah di daerah selatan
pusat pemerintahan dengan nama yang sama dengan daerah yang ditinggalkan yaitu
Dusun Selampaung.
Dengan adanya pembagian wilayah
kekuasaan tersebut maka Sigindo Batinting memerintah dengan aman, setiap
penguasa wilayah yang ditunjuk tunduk pada pemerintahan Pulau Sangkar dan
selalu melaporkan setiap perkembangan pada Sigindo Batinting.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar