Breaking News

Jumat, 03 Juli 2015

KERAJAAN NEGERI SIGINDO ALAM KERINCI


1.        Asal-Usul Sigindo
Diperkirakan bahwa sekitar abad ke 6 M di wilayah Alam Kerinci, telah terbentuk negeri-negeri yang secara terpisah mempunyai pemerintahan sendiri. Sebuah komunitas masyarakat sudah barang tentu mencari pemimpin dari orang-orang yang mempunyai pengaruh dan disegani dalam kelompoknya. Biasanya mereka juga merupakan orang yang diyakini memiliki kesaktian sehingga diharapkan dapat melindungi negeri dari berbagai mara bahaya yang ditimbulan manusia, alam, binatang, maupun roh-roh jahat. Munculnya pemimpin-pemimbin negeri baru ini diperkiranan seiring dengan pertumbuhan negeri-negeri di Alam Kerinci yaitu sekitar abad ke 6 M. Para pemimpin negeri itu, dikenal dengan sebutan Sigindo atau kepala kaum/kelompok darisuatu komunitas keturunan dari kelompok masyarakat yang mendiami suatu daerah tertentu, dimana sekaligus merangkap sebagai kepala pemerintahan dari suatu wilayah negeri.
Sebuah negeri Sigindo teridiri atas beberapa buah dusun, dimana di dalam sebuah dusun terdapat kelompok kekarabatan masyarakat seketurunan. Pada kelompok kekarabatan ini masih terdapat lagi kelompok yang lebih kecil kaitu kumpulan dari kelompok-kelompok kekeluargaan, sedangkan strata masyarakat yang paling kecil adalah keluarga. Masing-masing strata kekarabatan mulai dari unit yang terkecil dipimpin oleh seorang kelompk yang ditunjuk dan dipilih menurut ketentuan adat yang berlaku.
Dalam perkembangan selanjutnya, untuk unit keluarga terkecil disebut denan Tumbi oleh kepala Tumbi atau kepala keluarga. Kempulan dari beberapa unit keluarga kecil (tumbi) dalamlingkup kekarabatan seketurunan disebut dengan istilah Perut, dan dipimpin oleh Tengganai. Lapisan berikutnya merupakan dari beberapa Perut disbeut dengan istilah Kelebu dan dipimpin oleh kepala Kelebu yang lazim disebut sekarang dengan istilah Ninik Mamak. Sedangkan kumpulan dari kekerabatan Kelebu disebut dengan ‘luhak; atau lurah yang dipimpin oleh seorang kepala lurah yang lazim disebut dengan Depati. Masing-masing strata di atas mempunyai tugas dan tanggung jawab sendiri-sendiri yang pada intinya menuntun dan membimbing masyarakat untuk dapat mentaati norma dan kententuan adat negeri.
Melalui strata kemasyarakatan di atas, segala bentuk kebijakan pemerintah negeri disampaikan secara beranting ke bawah. Melalui alir system ini dilakukan pengendalian terhadap komponen masyarakat atau warga yang terhimpun dalam sebuah negeri Sigindo. Masing-masing pemimpin pada strata masyarakat yang terbentuk memikul tugas dan tanggung jawab membina dan mengurus anak negeri atau kaum kerabatnya.
Bila sebuah negeri Sigindo hanya merupakan sebuah dusun, maka berarti Sigindo yang memerintah hanya memeritnah strata kelompok masyarakat yagn berada alam lingkup dusun itu saja. Namun apabila sebuah negeri Sigindo terdiri atas banyak dusun dibawahnya, maka Sigindo yang berkuasa berarti memerintah dan mengatur seluruh strata kemasyarakatan yang terdapat pada beberapa dusun. Makin banyak dusun-dusun yang berada di bawah sebuah pemerintahan Sigindo menunjukkan besarnya kekuasaan seorang Sigindo.
Pada pemerintahan para Sigindo dikisahkan bahwa kehidupan masyarakat di Alam Kerinci berjalan dengan baik. Masyarakat dapat hidup aman, tentram dan makmur. Pemerintahan Sigindo semakin meluas sehingga di Alam Kerinci terdapat banyak negeri yang dibawah kepemimpinan Sigindo. Banyak diantara negeri Sigindo tersebut berasal dari induk Sigindo yang sama atau negeri tersebut berasal dari induk negeri yang serumpun, namun secara otonom masing-masing menjalankan pemerintahan secara terpisah.
Masing-masing mengurus dan mengatur kepentingan penduduk negerinya tanpa ikut sampur Sigindo asalnya. Tidak ada Sigindo yan gberada dibawah kekuasaan Sigindo yang lain, atau satu Sigindo takluk pada kekuasaan sebuah pemerintahan Sigindo lainnya. Walaupun tidak terdapat hubungan secara hirarki dengan pemerintahan Sigindo negeri asal, namun pemerintahan Sigindo yang berumur lebih tua (Sigindo asal) selalu dihormati oleh Sigindo yang lebih baru.
Negeri Sigindo yang keberadaanya lebih muda sunggupun tidak berada dibawah kekuasaan atau pengaruh Sigindo asal, akan tetapi mereka selalu mengikuti langkah kebijakan pendahulunya dalam meminpin negeri. Perselisihan antara negeri Sigindo jarang diceritakan, karenanya boleh dikatakan jarang terjadi. Kalaupun ada, itupun hanya terjadi antara Sigindo pada tingkatan lapisan di bawah atau antara negeri Sigindo yang berbeda asal. Perselisihan biasanya akan dapat diselesaikan melalui peran Sigindo-Sigindo asalnya. Indilah diantara kekhasan dari pemerintahan Sigindo di Alam Kerinci.

2.        Wilayah Sigindo-Sigindo
Dalam pertumbuhannya, sebagaimana kebanyakan pemerintahan negeri-negeri pada masa lalu, ada negeri yang kuat dan berkembang, sebaliknya adapula yang tidak mampu bertahan dan akhirnya tenggelam atau lenyap. Hal tersebut juga berlaku terhadap negeri-negeri Sigindo di Alam Kerinci, dimana tidak semua negeri Sigindo dapat tumbuh menjadi negeri yang makmur dan kuat. Bagi negeri yang tidak mampu berkembang, maka secara alamiah lenyap dengan sendirinya.
Bilamana suatu negeri Sigindo tidak dapat bertahan lagi, maka biasanya rakyat negeri tersebut akan memilih bergabung dengan negeri Sigindo lain, yaitu dengan negeri Sigindo yang lebih kuat dan makmur. Kondisi ini merupakan seleksi alamiah yang terjadi terhadap kemapanan dari suatu pemerintahan Sigindo yang tersebar di Alam Kerinci. Sehingga pada akhirnya pemerintahan Sigindo yang bertahan, memang benar-benar pemerintahan Sigindo yang telah terusji kemapanannya.
Dari sekian banyak negeri Sigindo di Alam Kerinci, diantaranya yang sering disebut orang untuk Kerinci Tinggi adalah:
1.      Sigindo Batinting (Segerinting atau Keninting) terletak di wilayah Selatan Danau Kerinci. Wilayah ini diduga merupakan lokasi bekas dusun purba Jerangkang Tinggi. Di wilayah ini terdapat beberapa dusun yang dulunya berkembang pesat dan maju.
2.      Sigindo Sakti yang lokasinya diperkirakan terletak dibagian timur dusun Lempur. Negeri dalam wilayah tanah Sigindo ini adalah dusun-dusun yang berasal dari dusun purba Tanjung Muara Sekiau.
3.      Sigindo Balak wilayahnya memayungi negeri-negeri yang berasa dari bekas dusun pubra Renah Punti. Daerah tanah Sigindo ini diperkirakan disekitar dusun Serampas sekarang.
4.      Sigindo Elok Misai yang diperkirakan berada disekitar dusun Jangkat (Muara Maderas). Negeri tanah Sigindo ini berasal dari dusun purba Koto Mutun.
5.      Sigindo Bauk diperkirakan berada dekat dusun Tamiai sekarang. Negeri dari tanah Sigindo ini berasa dari dusun purba Muara Sekiau berlokasi di tepi Batang Merangin.
6.      Sigindo Teras diperkirakan berlokasi disekitar dusun Pengasi, yang berasal dari dusun purba Jerangkang Tinggi.
7.      Sigindo Kumbang diperkirakan berlokasi di daerah Jujun di pinggir Danau Kerinci. Wilayah Sigindo ini berasal dari dusun purba Jerangkang Tinggi.
8.      Sigindo Kerau diperkirakan berlokasi di dusun Selemean sekarang. Negeri dibawah tanah Sigindo ini berasal dari dusun purba Koto Jelatang.
9.      Sigindo Keramat diperkirakan berlokasi di luar dusun Hiang sekarang. Negeri yang tercakup disini berasal dari dusun purba Koto Jelatang.
10.  Sigindo Kecik diperkirakan berlokasi di luar dusun Tanah Kampung sekarang. Negeri yang terlingkup dalam wilayah kekuasaan Sigindo Kecik berasal dari dusun purba Koto Beringin.
11.  Sigindo Siung diperkirakan berlokasi di daerah perbukitan di sekitar dusun Kumun sekarang. Negeri yang berada di bawah tanah Sigindo ini beradal dari dusnu purba Talang Betung.
12.  Sigindo Panjang Rambut diperkirakan berlokasi di atgas bukit dekat dusun Sungai Liuk sekarang. Negeri yang berada dibawah tanah Sigindo ini berasal dari dusun purba Koto Beringin.
13.  Sigindo Merak diperkirakan berlokasi di atas perbukitandekat dusun Tebat Ijuk sekarang. Negeri yang masuk wilayah ini berasal daeri dusun purba Koto Limau Sering.
14.  Sigindo Junjung diperkirakan berlokasi di Tanjung Kerbau Jatuh (Sanggaran Agung) sekarang. Negeri yang berada dibawah tanah Sigindo ini berasal dari pemekaran dusun purba Jerangkang Tinggi.
15.  Sigindo Siah tanah Sigindo Rawo, tanah Sigindo Batinting dan tanah Sigindo Bujang diperkirakan berlokasi di sekitar dusun Pulau Sangkar sekarang. Negeri yang ini berasal dari dusun purba Jerangkang Tinggi.
16.  Sigindo Kuning berlokasi di daerah Pratin Tuo (dusun Tuo). Negeri yang berada di bawah Sigindo ini berasal dari dusun purba Lapai Tuo. Daerah ini disebelah Timur Serampas.

Sedangkan untuk daerah Kerinci Rendah tanah Sigindo yang sering dituturkan adalam perbincangan tetua masyarakat adalah:
1.      Sigindo Segilintang berada disekitar daerah Pamenang sekarang. Negeri yang berada dalam lingkup tanah Sigindo ini berasal dari dusun purba Sungai Lintang.
2.      Sigindo Timben berada pada daerah sekitar dusun Sungai Manau sekarang. Negeri yang berada dalam lingkup wilayah ini berasal dari dusun purba Timben.
3.      Sigindo Pengantung wilayahnya berada pada daerah sekitar Pangkalan Jambu sekarang. Sigindo ini menerintah negeri yang berasal dari dusun purba Pengantung.
4.      Sigindo Malgan wilayahnya juga berada pada daerah sekitar Pangkalan Jambu. Negeri yang berada dalam lingkup tanah Sigindo ini berasa dari dusun purba Malgan.
5.      Sigindo Simukun wilayahnya berada disekitar Nalo dan Tantan sekarang. Negeri yang berada dalam lingkup wilayah ini beradal dari dusun purba Muaro Simukun.
6.      Sigindo Demahu wilayahnya juga berada pada daerah sekitar Nalo dan Tantan sekarang. Seang negeri yang berada dalam lingkup tana seginda oni beradal dari dusun purba Demahu.
7.      Sigindo Buluh wilayah berada pada daerah sekitar Nalo dan Tantan. Negeri yang berada dalam lingkup tanah Sigindo ini berasal dari dusun purba Lubuk Buluh.

3.        Ekspansi (perluasan) Kerajaan Sriwijaya
Pada masa kejayaannya, keberadaan negeri Sigindo di Alam Kerinci telah menjadi pembicaraan dari banyak kerajaan atau pemerintahan pada waktu itu. Perkembangan ini berpengaruh cukup besar terhadap eksistensi pemerintahan negeri-negeri Sigindo. Kekawatiran akan terjadi perselisihan di antara negeri Sigindo yang disebabkan perebutan pengaruh dari kerajan luar mungkin saja terjadi. Para Sigindo menyadari akan potensi komplik ini, maka untuk itu para Sigindo yang berpengaruh di Alam Kerinci lalu memprakarsai langkah-langkah konsolidasi ke arah persatuan dan kesatuan negeri-negeri Sigindo.
Prakarsa ke arah terbentuknya persatuan ini telah melahirkan Negara Sigindo Alam Kerinci yang bernaung dalam satu payung pemerintahan yang terkoordinasi pada tahun 644 M. Pusat pemerintahan kolektif ini berkedudukan di Jerangkang Tinggi sengan Sigindo rumpun kerabat tertua yaitu Sigindo Batinting dari Jerangkang Tinggi di Sungai Musi. Kepindahan pusat kerajaan diduga karena posisi Muara Takus sebagai pusat pengendalian kekuasaan kurang strategis bagi perkembangan masa depan kerajaan.
Dalam Prasasti Kedukan Bukit tahun 683 M disebutkan mereka pindah dengan membawa tentara sebanyak 20.000 orang menggunakan perahun dan 1.312 orang berjalan kaki. Mengendalikan kekuatan besar itu, mereka lalu membangun Kedukan Bukit diantaranya, negara Sigindo menjalin persahabatan dengan kerajaan tetangga yaitu kerajaan Malayu. Hubungan baik ini telah dibina cukup lama dan kedua belah pihak mendapat manfaat yang saling menguntungkan terutama dalam perniagaan diantara penduduk negeri.
 Kerajaan Sriwijaya berasa dari kaki Gunung Dempo di pergunungan Bukit Barisan di tengah pulau Sumatera bagian selatan. Dari sini mereka turun mengikuti aliran sungai Musi dan pada tahun 682 M mereka membuat ibukota di Kedukan Bukit. Kepindahan ini diperkuat oleh prasasti Talang Tuo tahun 684 M yang ditemukan tidak berapa jauh dari Kedukan Bukit. Sebagaimana disebutkan dalam prasasti Kedukan Bukit, dengan kekuatan bala tentara yang besar mereka membangun kerajaan dan kemudian menaklukkan daerah sekitarnya.
Kerajaan Sriwijaya yang berambisi untuk mengukuhkan pengaruh da kekuasaannya atas bumi nusantara terus melakukan ekspansi ke daerah-daerah disekitarnya dengan mengirim pasokan dan armada perang yang tangguh. Salah satu daerah terdekat yang menjadi sasrajaan Melayu, pengaruh kerajaan Sriwijaya juga sampai ke daratan Asia Tenggara, seperti Malaysia (Tanjung Kra), Birma, Kamboja, Annam dan kepulauan Filipina. Daerah-daerah itu sebelumnya berada dibawah pengaruh kekuasaan kerjaan Melayu.
Masih dalam abad ke 7 M ekspansi kerajaan Sriwijaya juga dilakukan ke daerah Selatan dengan menaklukkan kerajaan Tulang Bawang di daerah Lampung. Setelah itu, kerajaan Sriwijaya mengukuhkan pula kekuasaannya ata pulau Bangka (Prasasti Kota Kapur tahun 686 M). Ekspansi tidak terhenti di sini karena diteruskan ke pulau Jawa. Berbarengan dengan ekspansi ke pulau Jawa, kerajaan Sriwijaya ra matang.
Persiapan dilakukan mengingat posisi kerajaan Melayu merupakan satu kerajaan terkuat di Sumatera. Setelah segala sesuatu dipersiapkan dengan baik, maka penyerangan lalu dilaksanakan baik melalui darat maupun laut terhadapdaerah-daerah pusat kekuatan kerajaan Melayu. Gempuran yang dilakukan berkali-kali dari berbagai penjur wilayah menyebabkan kerajaan menjadi amat kewalahan. Upaya yang melelahkan dan memakan banyak korban jiwa mapun materi itu, akhirnya membuahkan hasil dengan takluknya kerajaan Melayu.
Diperkirakan pada sekitar pertengahan abad ke 6 M kerajaan Sriwijaya dapat menguasai hampir sebagian besar wilayah kerajaan Melayu. Kekalahan kerahaan Melayu telah menempatkan kerajaan Sriwijaya tumbuh dan berkembang dengan cepat. Sama halnya dengan kerajaan Melayu, pengaruh kerajaan Sriwijaya juga sampai ke daratan Asia Tenggara, seperti Malaysia (Tanjung Kra), Birma, Kamboja, Annam dan kepulauan Filipina. Daerah-daerah itu sebelumnya berada dibawah pengaruh kekuasaan kerjaan Melayu.
Masih dalam abad ke 7 M ekspansi kerajaan Sriwijaya juga dilakukan ke daerah Selatan dengan menaklukkan kerajaan Tulang Bawang di daerah Lampung. Setelah itu, kerajaan Sriwijaya mengukuhkan pula kekuasaannya ata pulau Bangka (Prasasti Kota Kapur tahun 686 M). Ekspansi tidak terhenti di sini karena diteruskan ke pulau Jawa. Berbarengan dengan ekspansi ke pulau Jawa, kerajaan Sriwijaya melakukan pula penyerangan ke daerah-daerah pedalaman pulau Sumatera. Salah satu daerah yang menjadi sasaran adalah negara Sigindo Alam Kerinci. Kerajaan Sriwijaya kelihatan sangat berkepentingan terhadap negeri-negeri Sigindo, karena wilayah Alam Kerinci di bawah pemerintahan para Sigindo selama ini diketahui sebagai daerah pemasok berbagai komoditi dagang untuk pasar manca negara.

4.        Kerinci Rendah Dikuasai Sriwijaya
Selama terjadi komplit antara kerajaan Sriwijaya dengan kerajaan Melayu pasokan komoditi perdagangan dari daerah Alam Kerinci terasa sangat menurun. Demikian juga setelah kerajaan Sriwijaya menaklukkan kerajaan Melayu arus barang-barang melalui daerah Jambi dan Alam Kerinci volumenya terus berkurang. Menurunnya pasokan komoditi dagang yang berasal dari daerah Alam Kerinci ke jalur perdagangan pantai timur Jambi dikarenakan negeri-negeri Sigindo telah mulai mengalihkan jalur perdagangan ekspornya ke pelabuhan-pelabuhan pantai Barat Sumatera yang kebetulan lagi berkembang.
Perubahan jalur perniagaan ini dilakukan para pedagang negeri Sigindo atas pertimbangan keamanan yang sulit untuk diatasi. Selain itu, kebetulanpula pelabuhan samudra di pantai Barat mulai banyak digunakan armada dagang manca negara dari daratan India dan Asia Tenggara. Perubahan situasi ini memberikan prospek yang cukup baik bagi negeri-negeri disekitar pantai Barat dalam perniagaan, mengingat perairan Selat Malaka semakin tidak kondusif untuk dilayani.
Akan tetapi kerajaan Sriwijaya beranggapan bahwa negeri-negeri Sigindo Alam Kerinci sengaja melakukan pembangkangan. Sebenarnya apa yang dikemukakan kerajaan Sriwijaya hanya merupakan alasan semata. Pada hal sebenarnya kerajaan Sriwijaya berambisi menaklukkan seluruh pemerintahan atau kerajaan-kerajaan yang terdapat disekitarnya. Kecongkakan yang tidak bias dibendung lagi, lalu mereka wujudkan dengan mengerang negeri-negeri Segindo pada wilayah Kerinci Rendah. Daerah ini merupakan wilayah yang dulunya berbatasan langsung dengan kerajaan Melayu.
Untuk menyerang Kerinci, Rendah, kerajaan Sriwijaya mengerahkan kekuatan darat dan armada lautnya. Pasukan darat didatangkan melalui Jambi dan Rawas, sedangkan armada laut didatangkan dengan melewati jalur sungai Batanghari, terus menelusuri sungai Batang Tembesi dan kemudianmasuk ke daerah Kerinci Rendah melalui sungai Batang Merangin. Mengingat perahu-perahu pengangkut pasokan sulit untuk berlayar jauh lebih ke hulu lagi menelusuri Batang Merangin dan Matang Masumai yang dangkal dan berbatu, maka pasokan didaeratkan diujung Muara Mesumai (Bangko). Tempat ini lalu dijadikan sebagai basis penyerangan ke daerah-daerah Kerinci Rendah.
Dari Muara Mesumai serangan pertama dilakukan terhadap tanah Sigindo Sungai Lintang yaitu daerah di sekitar anak Sungai Batang Lintang yang bermuara ke Batang Merangin. Wilayah ini sekarang berapa pada sekitar daerah Kecamtan daerah Sigindo Sungai Lintang dengan mudah dapat dikuasai. Dari sini pasokan melanjutkan penyeranganke daerah tanah Sigindo Timben, Pengantungan, Malgan, Semukun, Lubuk Buluh dan tanah Sigindo Damahu. Penyerangan tahap ke dua mendapat perlawanan yang keras dari rakyat Kerinci Rendah. Namun karena pasukan Sriwijaya dengan kekuatan yang besar dan peralatan perang yang lengkap. Perlawanan rakyat Kerinci Rendah dapat dipatahkan.
Setelah menaklukkan Daerah Kerinci Rendah, pemerintahan Sriwijaya membuat sebuah prasasti yang berupa peringatan kepada daerah pendudukan Sriwijaya untuk selalu tunduk kepada Kerajaan Sriwijaya. Bagi penduduk yang berniat untuk melawan pemerintahan kerajaan Sriwijaya atau penduduk yang melakukan kejahatan akan dikutuk oleh dewa penguasa alam. Prasasti ini dikenal dengan nama Prasasti Karang Birahi. Prasasti Karang Birahi ditemukan di pinggir Sungai Batang Merangin di Dusun Karang Birahi di wilayah Kerinci Rendah tepatnya di Kecamatan Pemenang Kabupaten Merangin sekarang.

Prasasti Karang Birahi, prasasti ini berada berjarak lebih kurang 25 km dari Bangko ibukota Kabupaten Merangin. Prasasti ini bertulis :
di dalanan bhumi ajnana kadatuan
ini parawis o dhrohaka wanun o samawuddhi lawan
drohaka o man
Bahasa Melayu Kuno yang dipakai tersebut besar dugaaan adalah bahasa Kerinci Kuno, mengingat bahasa Kerinci merupakan bagian dari bahasa Melayu.  Menurut J.G. de Casparis seorang ahli sejarah dan purbakala Belanda yang telah membaca tulisan ini berpendapat bahwa isi dari Prasasti Karang Birahi bermakna permohonan kepada para dewa untuk melindungi kekuasaan Kerajaan Sriwijaya dan menghukum setiap orang yang bermaksud jahat dan durhaka kepada kerajaan, serta melindungi keselamatan orang yang taat dan setia.
keamwal o saramwat o kasi
han o wasika rana
iyewamad o janan muah ya siddha o pulan ke yah muah yan dosa
na wuatna jaha inan o
...............................
(titik bagian yang tidak dapat dibaca)
...............................
...............................
..............................
ini gran kadaci iya bhakti tatwarjjawa di
yaku o dnan di yan ni
galarkuasanyasa datua o
santi muah kawuatana o dnan gotra santanaa o
samddha
swastha o nirogo o nirupadrawa subhiksa
muah yan wanuana parawis //

Terjemahan (Sumber Museum Negeri Jambi, 1992) :
Tercapailah sudah maksud kita sampai tanda ini, tandrun kayet
Yang melakukan pemberontakan, bertemu tanding melawan tandrua-dosa
orang yang tabianya jahat, namun apabila mereka berbhakti dan setia kepada mereka yang
sudah kuangkat menjabat daujari drohaka o niujari drohaka tahu din
drohaka o tida (9) ya marpphadah tidy a bhakti o
 tatwarjjawa diyaku o dnan di iyan nigalarku ganyasa
datua o niwunuh (10) ya sumpah
nisuruh tapik ya mulan o parwwandan datu sriwijaya o
talu muah ya dnan (11) gora santanana o tathapi
 sawanakna yan wuatna jaha o maka lanit uran o
maka sa (120 kit o maka gila o matragada o wisaprayoga o upah
tuwa o tamwal o saramwat o kasi (13) han o wasika rana
 iyewamad o janan muah ya siddha o pulan ke yah muah yan dosa (14) na wuatna jaha inan o
–..................................
–..................................
(titik bagian yang tidak dapat dibaca)
–..................................
–..................................
 –..................................
ini gran kadaci iya bhakti tatwarjjawa di
yaku o dnan di yan ni (15) galarkuasanyasa datua o
santi muah kawuatana o dnan gotra santanaa o
samddha (16) swastha o nirogo o nirupadrawa subhiksa
muah yan wanuana parawis //

Terjemahan (Sumber Museum Negeri Jambi, 1992) :
1.         Tercapailah sudah maksud kita sampai tanda ini, tandrun kayet
2.         Yang melakukan pemberontakan, bertemu tanding melawan tandrun lua (raja sungai), matilah dia oleh
3.         tandrun luah, dibunuhla si pemberontak itu. Jangan terjadi lagi pemberontakan si kayet.
4.         itu sudah tenang (padam). Haturkan bhaktimu kepada ku. Itu sudah (menjadikan) tenang. (hai) kamu semua
5.         para dewa yang berkuasa dan hadir (disini), yang menjaga kedatuan Sriwijaya. Demikian pula kamu tandrun luah.
6.         dan semua dewa yang menjadi asal mula mantra kutukan ini jika orang
7.         di dalam seluruh kekuasaanku ada yang memberontak atau yang bersekongkol de-
8.         ngan pemberontakkan, berbicara dengan pemberontak. Mendengarkan (rencana) pemberontakan. Mengetahu pemberontakan tidak
9.         menghormati dan tidak berbhakti dan setia kepadaku, dan mereka yang sudah kuangkat menjabat daerah dan perkembangan dari satu kaum yang akhirnya membentuk suatu daerah kekuasaan atas kaum tertentu dan untuk wilayah kekuasaan tertentu.

Wilayah kekuasaan Sigindo Sigarinting terletak di wilayah Kerinci Tinggi yang berpusat di Jerangkang Tinggi (sekitar daerah Desa Muak sekarang, di pinggir Danau Kerinci). Sungguhpun telah berhasil menaklukkan negeri Sigindo di daerah Kerinci Rendah dengan susah payah kemudian menguasainya dalam waktu yang cukup lama (lebih dari 3 abad alamnya). Kemudian timbul keinginan untuk menaklukkan seluruh negeri Sigindo Alam Kerinci tidaklah surut. Selama ini wilayah Kerinci Tinggi belum pernah mereka taklukkan karena untuk menyerang daerah tersebut tidak sulit dan harus membelah hutan belantara yang sangat ganas.



5.        Kerajaan Sigindo Sigarinting Alam Kerinci Perang Melawan Sriwijaya
Wilayah Kerinci Tinggi dikomandoi oleh Sigindo Sigarinting. Pemerintahan Sigindo Sigarinting berlangsung dalam kurun waktu yang cukup lama mulai dari abad ke 6 Masehi sampai dengan terbentuknya Pemerintahaan Depati Empat Alam Kerinci. Pemerintahan Sigindo Sigarinting seperti juga dengan sigindo-sigindo lainnya terlahir dari pertalian darah dan perkembangan dari satu kaum yang akhirnya membentuk suatu daerah kekuasaan atas kaum tertentu dan untuk wilayah kekuasaan tertentu. Wilayah kekuasaan Sigindo Sigarinting terletak di wilayah Kerinci Tinggi yang berpusat di Jerangkang Tinggi (sekitar daerah Desa Muak sekarang, di pinggir Danau Kerinci).
Sungguhpun telah berhasil menaklukkan negeri Sigindo di daerah Kerinci Rendah dengan susah payah kemudian menguasainya dalam waktu yang cukup lama (lebih dari 3 abad alamnya). Kemudian timbul keinginan untuk menaklukkan seluruh negeri Sigindo Alam Kerinci tidaklah surut. Selama ini wilayah Kerinci Tinggi belum pernah mereka taklukkan karena untuk menyerang daerah tersebut tidak sulit dan harus membelah hutan belantara yang sangat ganas.
Pasukan Sriwijaya ingin masuk ke daerah Kerinci Tinggi yang kaya dengan produk perdagangan yang sangat diminati oleh negara luar, disamping itu daerah ini juga merupakan basis kekuasaan pemerintahan negeri-negeri Sigindo. Akan tetapi menyerang Kerinci Tinggi bukanlah hal yang mudah. Pasukan Sriwijaya menyadari bahwa mereka akan dihadapkan dengan tentangan yang lebih berat.
Perlawanan dari pasokan dan rakyat negeri-negri Sigindo di Kerinci Tinggi tentu akan lebih sengit. Negeri-negeri Sigindo di Kerinci Tinggi telah siaga menyongsong kedatangan mereka. Selain itu, pasukan Sriwijaya menyadari pula bahwa mereka akan berhadapaan dengan kondisi alamangat membara dari pasukan negeri Sigindo beserta rakyat disekitarnya dalam menghadapi pasukan Sriwijaya menyebabkan pasukan Sriwijaya dapat dipumpas.
Tak seorangpun dibiarkan meloloskan diri, semuanya mati dalam pertempuran. Sebagai peringatan atas kejadian tersebut, maka tempat dimana berlangsungnya pertempuran sengit itu, lalu diberi nama dengan Telaga Darah. Walaupun peristiwa peperangan terjadi ratusan tahun yang silam, namun sampai kini lokasi Telaga Darah di Bukit Melegan selalu dikenang rakyat Kerinci sebagai tempat kemenangan pasukan Sigindo atas pasukan Kerajaan Sriwijaya.
Berita kekalahan pasukan Sriwijaya di Kerinci Tinggi, kemudian diterima induk pasukan yang bermarkas di Kerinci Rendah. Sudah barang tentu hal ini amat menyakitkan, karena tnan tertinggi Negara Sigindo Alam Kerinci. Koordinasi dilakukan para pemimpin negeri Sigindo di seluruh Kerinci Tinggi untuk menghadapi kedatangan pasukan Sriwijaya yang akan menduduki daerah Kerinci Tinggi.
Setelah segala sesuatu dipersiapkan mulai dari perbekalan, taktik dan strategi perang, maka pasukan negeri-negeri Sigindo lalu diberangkatkan untuk menghadang musuh. Pada suatu tempat di Bukit Malegan dekat dusun Pulau Sangkar sekarang, kedua pasukan bertemu dan terjadilah pertempuran sengit. Pasukan Sriwijaya karena tidak menguasai medan perang dan telah lelah melawan keganasan alam dengan mudah dapat diporak-porandakan.
Semangat membara dari pasukan negeri Sigindo beserta rakyat disekitarnya dalam menghadapi pasukan Sriwijaya menyebabkan pasukan Sriwijaya dapat dipumpas. Tak seorangpun dibiarkan meloloskan diri, semuanya mati dalam pertempuran. Sebagai peringatan atas kejadian tersebut, maka tempat dimana berlangsungnya pertempuran sengit itu, lalu diberi nama dengan Telaga Darah. Walaupun peristiwa peperangan terjadi ratusan tahun yang silam, namun sampai kini lokasi Telaga Darah di Bukit Melegan selalu dikenang rakyat Kerinci sebagai tempat kemenangan pasukan Sigindo atas pasukan Kerajaan Sriwijaya.
Berita kekalahan pasukan Sriwijaya di Kerinci Tinggi, kemudian diterima induk pasukan yang bermarkas di Kerinci Rendah. Sudah barang tentu hal ini amat menyakitkan, karena tidak seorangpun di antara mereka yang dapat kembali. Kekalahan di Telaga Darah merupakan tamparan yang amat berat bagi kelanjutan ekspedisi pasukan Sriwijaya. Akhirnya, mereka lau mengurungkan niatnya untuk menyerang kembali Kerinci Tinggi. Keputusan diambil atas pertimbangan medan yang sangat berat di wilayah Kerinci Tinggi dan kekuatan pasukan Sigindo Sigarinting dan sigindo-sigindo lain yang telah bersatu berjuang mempertahankan wilayah Kerinci Tinggi tida bisa diremehkan.
Sungguhpun keinginan menyerang daerah Kerinci Tinggi tidak dilanjutkan, akan tetapi pendudukan atas wilayah Kerinci Rendah tetap dipertahankan. Kerajaan Sriwijaya sangat berkepentingan terhadap Kerinci Rendah, karena daerah ini sangat potensial dalam pertambangan emas. Dalam mengukuhkaajaan Sriwijaya, daerah Kerinci Tinggi tidak pernah dapat ditundukkan, sehingga daerah Kerinci Tinggi adalah satu-satunya wilayah di Sumatera yang tidak pernah takluk oleh kerajaan Sriwijaya (sampai abad ke 9 Masehi, Kerajaan Sriwijaya berakhir). Semenjak itu Kerinci Tinggi secara turun temurun diperintah oleh siapa saja yang diangkat oleh masyarakat adat untuk silih berganti menyandang gelar Sigindo Sigarinting sampai pada abad ke 13 Masehi.

6.        Sigindo Sigarinting Dan Tuanku Siah Rao
Abad ke 13 Masehi, Tuanku Siah Rao adalah salah seorang keluarga Kerajaan Malayu di Pagarruyung yang pergi mengasingkan diri dan. Prasasti sengaja ditempatkan di sini karena dusun Karang Birahi merupakan tempat persinggahan orang-orang yang keluar masuk Kerinci Renluarga dan pengawal lainnya dari Negeri Selampaung sebagai teman dalam perjalanan.
Beliau ini mempunyai semangat juang dan kekuatan batin yang sangat kuat sehingga dapat memenangkan setiap pertempuran di perjalanan, sehingga akhirnya sampai di suatu daerah yang disebut Jerangkang Tinggi. (sekitar daerah Desa Muak sekarang, di pinggir Danau Kerinci). Di Jerangkang Tinggi terdapat tiga orang penguasa yang cukup disegani, yakni:
1. Kerenggo Bungkuk.
2. Lemutung Hitam
3. Tebun Tandang
Dalam perebutan kekuasaan terjadilah perkelahian yang sangat sengit. Alhasil adalam perkalian ini ”meninting-balui”, artinya tidak ada yang kalah dan yang menang, sehingga akhirnya diadakan perundingan damai dengan cara: menyabung ayam. Setelah taji dibuang timbal-balik ayam telah dilepas berlaga dengan sengitnya. Masing-maisng menghimbau tuah. Tuanku Siah Rao menghimbau tuah sambil menghentakkan tongkatnya yang mana diujung tongkatnya tersebut berisi tanah dari Pagarruyung.
Tuah dihimbau: ”Kalau tidak ujung tanah Pagarruyung tentang ini kalahlah saya, kalau ada ujung tanah Pagarruyung tentang ini, maka menanglah saya”. Pertandingan akhinya Tuanku Siah Rao memenangkan pertandingan. Setelah menang beliau diangkat secara adat menguasai wilayah Sigindo Segerinting dan namun masyarakatnya juga memanggil beliau dengan gelar Sigindo Batinting. Batinting dalam bahasa Kerinci Kuno berarti seseorang yang tahan tinting, tahan terhadap pukulan, tahan terhadap bantingan dan segala senjata tajam dalam perkelahian tiga lawan satu ketika melawan penguasa di sekitar Jerangkang tinggi yaitu Kerenggo Bungkuk, Lemutung Hitam dan Tebun Tandang.
Semenjak itu Sigindo Batinting mengatur Pemerintahan di wilayah Kerinci Tinggi (wilayah Sigindo Sigarinting). Karena Jerangkang Tinggi terletak di atas bukit (dekat desa Muak dan Pondok sekarang), transportasi untuk mengatur pemerintahan cukup sulit karena sebagian dusun dan permukiman penduduk berada dipinggir sungai dan danau. Oleh sebab itu beliau memindahkan pusat pemerintahaan ke daerah pinggiran sungai yang strategis yaitu di atas sebuah pulau dipinggir Batang Merangin. Tempat ini beliau beri nama ”Pulau Sangkar”, demi untuk mendekatkan nama dengan daerah yang ditinggal beliau yaitu Batu Sangkar. Orang-orang yang telah kalah dalam pertandingan diangkat menjdai sabahat yang menguasai wilayah tertentu.
1.         Karenggo Bungkuk, diberi kekuasaan untuk memerintah dan menguasai daerah Lubuk Paku dan diberi gelar Menggung.
2.         Lemutung Hitam, diberi wilayah kekuasaan tetap di Jerangkang Tinggi (Muak) dan bergelar Rio.
3.         Tebun Tandang, diberi wilayah kekuasaan berdampingan dengan wilayah Pulau Sangkar yaitu Dusun Pondok dan diberi gelar Mangku.
4.         Sedangkan orang-orang yang ikut bersama beliau dari Selampaung Pagarruyung dianggap sebagai keluarga sendidi diberi kekuasaan disatu wilayah di daerah selatan pusat pemerintahan dengan nama yang sama dengan daerah yang ditinggalkan yaitu Dusun Selampaung.
Dengan adanya pembagian wilayah kekuasaan tersebut maka Sigindo Batinting memerintah dengan aman, setiap penguasa wilayah yang ditunjuk tunduk pada pemerintahan Pulau Sangkar dan selalu melaporkan setiap perkembangan pada Sigindo Batinting.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Designed By